Refleksi Pembelajaran Berdiferensiasi
Beriku adalah pertanyaan pemantik yang dapat Anda renungkan sebelum
melakukan kegiatan refleksi ini;
1.
Bagaimana saya dapat melakukan praktek pembelajaran berdifensiasi secara
lebih efektif?
2.
Pendekatan manakah yang seharusnya saya ubahsuaikan?
3. Bagaimana saya tetap dapat bersikap positif walaupun banyak tantangan dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi ini?
Jawaban
1.
Saya melakukan praktek pembelajaran berdiferensiasi dengan cara :
a. Merencanakan Kelas
Berdiferensisasi
Dalam merencanakan kelas
berdiferensiasi, ada tiga aspek yang sangat penting, yakni: (1) mengklarifikasi
materi, (2) mendiagnosa kesiapan siswa, dan (3) mendesain pengalaman belajar
yang bervariasi.
b. Mengatur Kelas
Berdiferensiasi
Mengatur kelas berdiferensiasi
memerlukan keterampilan dan strategi yang kompleks. Ia juga memerlukan
pemikiran yang fleksibel dan toleransi terhadap tingkatan aktivitas ,
perpindahan, dan kegaduhan/ keributan tingkat tinggi yang diakibatkan olehnya.
Beberapa ahli merekomendasikan para
guru agar mengembangkan ‘template’ untuk mengatur tugas siswa. Dodge
(2005) mengemukakan bahwa guru dapat mengembangkan kartu tugas, jurnal pendapat
siswa, buku harian belajar, format pencatatan, dan fortofolio siswa.
Carolyn Coil (2004, 2007) juga
mengembangkan satu set alat untuk guru: Kartu Kriteria Produk, pengatur
kegiatan pilihan siswa tic-tac-toe, dan format rencana belajar berjenjang.
c. Penilaian dalam
Kelas Berdiferensiasi
d. Penilaian dalam kelas berdiferensiasi bersifat tanpa henti dan merupakan bagian yang terpadu dengan pembelajaran. Langkah awal penilaian adalah mengumpulkan informasi diagnostik
2.
Pendekatan yang digunakan adalah
a.
Mengembangkan profil siswa
b.
Memberikan materi dengan format bervariasi dan dengan tingkat kesulitan
yang berbeda
Setidaknya ada 4 tingkat materi yang
harus tersedia bagi satu topik yang akan diberikan.
Tingkat I: simpel (di bawah standar)
- Tingkat II: rata-rata (sesuai standar)
Tingkat III: kompleks (di atas
standar)
Tingkat IV: profesional (ahli)
c.
Melihat proses kognitif yang berbeda
d.
Memberikan pilihan dalam kegiatan belajar dan penilaian
e.
Melakukan pengelompokkan yang fleksibel dan penyusunan kelompok kecil
f. Melakukan pemadatan kurikulum yaitu:
- - Fase pertama
meliputi penilaian siswa dan pengidentifikasian kandidat siswa yang akan
memperoleh pemadatan kurikulum
- - Fase kedua meliputi pengembangan rencana untuk mengajarkan keterampilan dan untuk memahami hal-hal yang belum dikuasai siswa.
- - Fase ketiga meliputi pembuatan proyek-proyek yang independen dan menantang oleh guru dan siswa.
- Mengadakan tutor sebaya dan menggunakan mentor dan ahli
3. Dalam setiap perubahan yang kita lakukan tentu saja pasti ada tantangan baik itu secara positif dan negative, tapi apapun itu tantangan saya merespon positif. Tantangan itu menjadi cambuk bagi saya untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan saya. Intropeksi diri dan melakukan perbaikan. Di samping itu Diskusikan dengan rekan sejawat dan pemangku kepentingan dalam menghadapi tantangan, ajak siswa untuk belajar mandiri dan kreatif, tidak menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber belajar.
- Dari apa yang sudah Anda pelajari, materi apa yang menurut Anda dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang terkait dengan pembelajaran di kelas Anda?
- Apa yang menurut Anda sulit untuk diterapkan? Mengapa menurut Anda hal tersebut sulit diterapkan?
- Jika Anda harus menerapkan hal yang sulit tersebut, dukungan Apa yang Anda perlukan? Kemana atau bagaimana Anda akan dapat mengakses dukungan tersebut.
- Jika Anda menghadapi sebuah situasi, dimana kebutuhan belajar siswa Anda tidak dapat diakomodasi oleh pembelajaran berdiferensiasi beranikah Anda mengambil risiko untuk memodifikasi pembelajaran Anda, meskipun hal tersebut mungkin tidak umum atau tidak sesuai dengan sistem yang ada? Jelaskan pendapat Anda dengan alasannya.
- Berdasarkan apa yang telah saya pelajari pada modul ini pembelajaran berdiferensiasi merupakan solusi bagi permasalahan terkait pembelajaran. Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Pembelajaran berdiferensiasi berpusat pada siswa dan menitikberatkan pada pengajaran yang responsif dan pro-aktif. Ia adalah pengakuan dan komitmen untuk merencanakan perbedaan-perbedaan yang ada ada siswa. Poin awalnya adalah memahami perbedaan, minat, dan pilihan siswa sekaligus juga memahami kekuatan dan kelemahan siswa. Menurut Tomlinson (2000), Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Pembelajaran berdiferensiasi haruslah berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar murid dan bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut. Adapun diferensiasi yang dapat dilakukan oleh guru yaitu dari segi konten, proses, dan juga produk yang dihasilkan siswa.
- Menurut saya yang sulit diterapkan dalam pembelajaran berdiferensiasi yaitu mengenali kebutuhan belajar murid. omlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek. Ketiga aspek tersebut adalah:
- Kesiapan belajar (readiness) murid
- Minat murid
- Profil belajar murid Jumlah siswa rata-rata 30 orang dengan latar belakang yang berbeda, tentunya perlu waktu yang ekstra bagi seorang guru untuk mengenali kebutuhan belajar muridnya. Apalagi dalam situasi pembelajaran daring seperti ini dimana guru tidak bisa bertemu dengan muridnya, perlu strategi dan inovasi untuk dapat mengenali masing-masing siswa.
4. Menurut saya, jika saya berada pada situasi dimana kebutuhan belajar siswa saya tidak dapat diakomodasi oleh pembelajaran berdiferensiasi, maka saya akan memodifikasi pembelajaran yang lebih efektif dan menyenangkan.
Komentar
Posting Komentar